Postingan.com — Hujan di kota ini tidak turun selayaknya air, melainkan seperti tirai abu-abu yang ditarik perlahan menutupi dunia. Sudah tiga hari sejak aku memindahkan barang terakhir—sebuah kotak kardus berisi piringan hitam jazz dan setumpuk buku anatomi—ke dalam rumah ini. Rumah yang terletak di pinggiran, di mana aspal jalan mulai pecah-pecah menyerah pada akar pohon trembesi tua, dan lampu jalan berkedip lelah seperti detak jantung pasien yang sekarat.
Rumah ini warisan. Bukan jenis warisan yang diperebutkan dengan tamak oleh kerabat jauh, tapi jenis yang dihindari. "Rumah dokter tua," begitu mereka menyebutnya. Kakek buyutku. Sosok yang wajahnya pun tak pernah kulihat, kecuali dari desas-desus keluarga yang mengatakan dia "jenius tapi ganjil".
Malam ini, aku duduk di meja makan kayu jati yang terlalu besar untuk satu orang. Di depanku, secangkir teh Earl Grey mengepulkan asap tipis, aromanya bergamot bercampur dengan bau apek dinding yang lembap. Aku punya ritual: teh harus diseduh tepat tiga menit, dan musik harus diputar dari turntable tua di sudut ruang. Suara kresek statis dari piringan hitam mendahului alunan saksofon yang berat dan rendah. Chet Baker mulai bernyanyi, suaranya seperti seseorang yang baru bangun dari mimpi buruk yang indah.
Aku menyesap teh. Hening. Hanya ada suara hujan yang mengetuk genteng tanah liat dan saksofon itu.
Lalu, suara itu muncul.
Bukan ketukan pintu. Bukan derit jendela.
Itu suara napas. Berat, tertahan, seolah-olah ditarik melalui paru-paru yang basah.
Mataku menyapu ruangan yang remang, diterangi lampu kuning 5 watt yang menggantung di tengah plafon tinggi. Pandanganku berhenti pada lemari itu. Lemari kayu setinggi dua meter di sudut ruang tengah, berukiran bunga krisan yang rumit, tertutup debu. Pintunya terkunci rapat. Sejak aku datang, kunci lemari itu tidak pernah ditemukan. Warnanya cokelat gelap, hampir hitam, menyerap cahaya di sekitarnya.
"Tolong..."
Bisikan itu lirih, nyaris tertutup suara hujan. Tapi aku mendengarnya. Jelas. Itu bukan suara hantu dalam film horor yang melengking. Itu suara manusia. Laki-laki, mungkin. Atau perempuan dengan suara parau. Suara seseorang yang lelah.
Aku meletakkan cangkir. Tehku bergetar sedikit, menciptakan riak kecil di permukaannya. "Siapa?" tanyaku. Suaraku sendiri terdengar asing, terlalu keras di ruangan yang sunyi ini.
Tidak ada jawaban. Hanya Chet Baker yang terus melantunkan kesedihan, dan hujan yang semakin deras, seolah berusaha menghapus rumah ini dari peta.
***
Klinik tempatku praktik hanya berjarak dua puluh menit berkendara dari rumah tua itu. Sebuah bangunan ruko minimalis bercat putih, steril, dan berbau karbol yang tajam. Kontras mutlak dengan rumahku yang berbau kayu lapuk dan kenangan.
"Dokter Dina, pasien pertama sudah menunggu," suara Nari terdengar dari interkom. Nari adalah asistenku, wanita paruh baya yang efisien, berwajah kaku, dan jarang tersenyum. Dia jenis orang yang menganggap hidup adalah serangkaian tugas yang harus dicentang.
"Suruh masuk," jawabku sambil membenahi jas putih. Aku menatap cermin kecil di atas wastafel. Ada lingkaran hitam di bawah mataku. Efek tidur yang tidak nyenyak. Dan sesuatu yang lain... goresan kecil di pipi kiri.
Aku merabanya. Perih. Mungkin tergores kuku saat tidur? Atau sarung bantal yang kasar? Lukanya tipis tapi memanjang, seperti sayatan kertas yang rapi.
Pintu terbuka. Pasien pertama masuk. Seorang pria muda, mahasiswa mungkin, dengan jaket hoodie yang basah kuyup.
"Keluhannya apa, Mas?" tanyaku rutin, mengambil pena.
"Ini, Dok. Perih sekali sejak bangun tidur tadi," katanya sambil menurunkan tudung jaketnya.
Pena di tanganku berhenti bergerak. Napasku tercekat sesaat.
Di pipi kiri pria itu, tepat di posisi yang sama dengan goresan di wajahku, terdapat luka sayat tipis yang memerah. Panjangnya identik. Kemiringannya identik.
"D-dari mana luka ini?" tanyaku, berusaha terdengar profesional, meski jantungku mulai memukul rusuk.
"Nggak tahu, Dok. Bangun-bangun sudah begini. Mungkin kena kawat nyamuk atau apa ya? Tapi rasanya panas, kayak kebakar."
Aku menatapnya. Lalu menatap refleksiku di cermin kecil di sudut meja. Luka itu. Luka kami.
"Saya bersihkan dulu," kataku pelan, mengambil kapas dan alkohol. Tanganku dingin.
Sepanjang hari itu, aku merasa seperti berjalan di dalam air. Gerakanku lambat, pikiranku melayang kembali ke lemari tua di rumah. Ada benang merah tipis yang tak kasat mata, menghubungkan goresan di wajahku, pasien ini, dan bisikan di lemari itu.
Malamnya, hujan turun lebih gila dari sebelumnya. Kilat menyambar, menerangi ruang tengah rumahku dalam kedipan putih yang menyakitkan mata. Setiap kali kilat menyambar, bayangan lemari itu tampak memanjang, seolah ingin menyentuh kakiku di meja makan.
Aku tidak memutar musik malam ini. Aku butuh keheningan mutlak. Aku duduk menghadap lemari itu, seperti dua petarung yang saling menaksir kekuatan.
"Skalpel..."
Bisikan itu datang lagi. Kali ini lebih jelas.
"Klem... tahan pendarahannya..."
Itu bukan sekadar minta tolong. Itu instruksi. Instruksi operasi. Suara itu terdengar panik, tapi terkontrol. Suara seorang dokter yang sedang berjuang melawan maut di meja operasi.
Aku mendekat. Lantai kayu berderit di bawah kakiku. Aku menempelkan telinga ke daun pintu lemari. Dingin. Kayu itu terasa sedingin es batu.
"Apa yang kau butuhkan?" bisikku pada kayu mati itu.
"Dia tidak boleh mati... belum waktunya..."
Lalu, sebuah suara sobekan terdengar dari dalam. Seperti kain yang dikoyak paksa. Bersamaan dengan itu, rasa sakit yang tajam, panas, dan mendadak menyerang bahu kananku. Aku terpekik, mundur terhuyung hingga menabrak kursi.
Aku menarik turun kerah bajuku. Di sana, di kulit bahuku yang pucat, muncul memar biru keunguan yang merekah, seolah ada tangan tak terlihat yang baru saja mencengkeramku dengan kekuatan penuh.
Aku tidak lari. Entah kenapa, rasa takutku telah bermutasi menjadi rasa ingin tahu yang morbid. Aku seorang dokter. Aku terbiasa melihat tubuh manusia dibuka, diperbaiki, dan dijahit kembali. Tapi ini... ini adalah anatomi dari sesuatu yang tak kasat mata.
***
Hari keempat, kelima, dan keenam berlalu dalam kabut surealisme. Batas antara diriku dan pasien-pasienku mulai luntur.
Pagi itu, aku bangun dengan rasa sesak yang hebat di dada. Rasanya seperti paru-paruku diisi air. Aku terbatuk, tapi tidak ada dahak. Hanya rasa sakit tumpul di tulang dada.
Siangnya, seorang wanita tua datang ke klinik. Napasnya tersengal.
"Sesak, Dok... sakit di sini," dia menunjuk dadanya. Lokasi yang sama persis dengan rasa sakitku.
Aku memeriksanya. Stetoskopku menempel di dadanya, dan aku mendengar suara wheezing yang kasar. Anehnya, saat aku menarik napas, aku mendengar bunyi yang sama dari dalam dadaku sendiri, tanpa stetoskop. Kami bernapas dalam satu ritme penderitaan.
Nari, asistenku, mulai menyadari perubahanku. Dia sering memergokiku melamun menatap wastafel, atau mengusap-usap bagian tubuh yang tidak luka secara fisik tapi terasa sakit.
"Dokter sakit?" tanyanya saat jam makan siang. Kami duduk di pantry kecil di belakang klinik. Hujan di luar membuat jendela kaca berembun.
"Hanya kurang tidur, Nar. Biasa, adaptasi rumah baru," jawabku. Aku mengaduk kopi hitamku, melihat pusaran cairan pekat itu.
"Rumah di Jalan Kenanga itu ya?" Nari bertanya, nadanya sedikit merendah. "Warga sekitar bilang rumah itu 'menyimpan waktu'."
"Menyimpan waktu?"
"Iya. Katanya, apa yang pernah terjadi di sana, tidak pernah benar-benar pergi. Cuma numpuk. Kayak debu."
Kata-kata Nari terngiang di kepalaku sepanjang perjalanan pulang. Menumpuk seperti debu.
Malam itu, aku memutuskan untuk tidak tidur. Aku membuat kopi kental. Aku mengeluarkan kotak peralatan medisku yang lama: stetoskop, tensimeter, gunting bedah, pinset. Aku meletakkannya di meja makan, berjejer rapi seperti serdadu yang siap perang. Aku tidak tahu apa yang kuhadapi, tapi aku akan menghadapinya sebagai dokter.
Pukul dua pagi. Hujan sudah berhenti, menyisakan tetesan ritmis dari talang air yang bocor. Tes... tes... tes...
Dari dalam lemari, terdengar suara tangisan. Bukan tangisan sedih, tapi tangisan frustrasi. Tangisan seseorang yang gagal.
"Maafkan saya... maafkan Papa..."
Papa? Kakek buyutku?
Aku berdiri, mengambil senter. Aku mendekati lemari itu lagi. Kali ini, aku melihat sesuatu yang luput dari perhatianku selama ini. Di bagian bawah ukiran bunga krisan, ada celah kecil yang hampir tak terlihat. Bukan lubang kunci biasa. Itu celah pipih.
Otakku bekerja cepat. Aku berlari ke tasku, mengambil pisau bedah scalpel. Besinya tipis, pipih, dan kuat.
Aku memasukkan ujung scalpel ke celah itu. Pas. Seolah celah itu memang dibuat untuk pisau bedah, bukan kunci besi.
Aku memutar gagang pisau itu perlahan. Klik.
Mekanisme kuno di dalam lemari itu bergeser. Suara berat kayu beradu dengan kayu terdengar. Pintu lemari itu terbuka sedikit, menghembuskan aroma yang membuat kepalaku pening: bau formalin, alkohol murni, dan kertas tua.
Jantungku berdegup kencang. Aku mendorong pintunya lebar-lebar.
Kosong.
Tidak ada monster. Tidak ada mayat. Tidak ada portal ke dunia lain.
Lemari itu hanya berisi rak-rak kayu yang dipenuhi tumpukan kertas, botol-botol kaca berisi cairan keruh yang sudah menguap, dan instrumen kedokteran dari logam yang sudah berkarat. Ini bukan lemari pakaian. Ini lemari arsip dan peralatan.
Aku mengambil satu berkas teratas. Kertasnya kuning, rapuh, nyaris hancur saat disentuh. Tulisan tangan di atasnya miring, tegak bersambung, menggunakan tinta hitam yang sudah memudar menjadi cokelat.
"Catatan Operasi No. 402. Tanggal 14 November 1924. Pasien: Tidak Bernama."
Aku membaca baris demi baris. Deskripsi medisnya akurat, brutal, dan dingin. Pembedahan rongga dada. Pengangkatan tumor. Kegagalan menghentikan pendarahan. Kematian di meja operasi pukul 03:00 pagi.
Aku mengambil berkas lain. "1925. Amputasi trauma." Berkas lain lagi. "1926. Demam yang tak terjelaskan."
Semakin aku membaca, semakin aku merasa mual. Deskripsi luka dan penyakit di kertas-kertas berusia seabad ini... aku mengenalinya.
Luka sayat di pipi kiri (Catatan 1928). Sesak napas dan cairan di paru-paru (Catatan 1930). Memar di bahu kanan akibat dislokasi (Catatan 1931).
Ini semua adalah keluhan pasien-pasienku minggu ini. Ini adalah luka-luka yang muncul di tubuhku.
Rumah ini tidak hanya menyimpan waktu. Rumah ini memutar ulang rasa sakit. Kakek buyutku tidak hanya mencatat medis; dia menyimpan penderitaan pasiennya di dalam lemari ini, dan sekarang, energi penderitaan itu mencari jalan keluar. Melaluiku. Melalui pasien-pasienku yang hanyalah wadah kosong bagi rasa sakit masa lalu.
Tapi ada satu laci kecil di bagian paling bawah lemari. Tersembunyi di balik tumpukan kain kasa yang sudah menghitam.
Aku menarik laci itu. Di dalamnya hanya ada sebuah amplop tebal dan sebuah cermin tangan berbingkai perak yang sudah ternoda oksidasi.
Aku membuka amplop itu. Sebuah foto hitam putih.
Duniaku berhenti berputar.
Foto itu diambil di depan rumah ini. Pohon trembesi di latar belakang masih muda. Di teras, duduk seorang pria tua berkacamata bulat—pasti kakek buyutku—dan di sebelahnya berdiri seorang wanita muda dengan jas dokter putih model lama.
Wanita itu menatap lurus ke kamera. Tatapannya tajam, introspektif, sedikit sedih.
Itu wajahku.
Bukan "mirip". Itu benar-benar aku. Bentuk hidung, tahi lalat kecil di leher, cara dia memiringkan kepala sedikit ke kanan. Semuanya aku.
Aku membalik foto itu. Ada tulisan di belakangnya:
"Dina, 1924. Asistenku yang paling setia. Puteriku yang paling berbakat. Dia yang akan meneruskan segalanya saat aku tiada."
Tanganku gemetar hebat hingga foto itu jatuh ke lantai. Napasku memburu. Aku mundur, menabrak meja makan. Suara piringan hitam Chet Baker tiba-tiba menyala sendiri, meski aku tidak menyentuhnya. Lagunya melompat, berulang-ulang di satu frasa:
"I fall in love too easily... I fall in love too easily..."
Aku menyambar cermin perak dari laci itu. Aku menatap wajahku.
Di cermin, bayanganku tidak menatap balik. Bayanganku di cermin sedang tersenyum. Senyum yang lelah, tua, dan penuh pengertian.
Lalu, bayangan di cermin itu bicara. Bibirnya bergerak, tapi suaranya terdengar langsung di dalam kepalaku.
"Kau sudah pulang. Lama sekali kau pergi."
Aku ingin berteriak, tapi suaraku hilang. Realitas di sekitarku mulai melengkung. Dinding rumah seolah bernapas. Bau formalin semakin menyengat.
Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Kunci lemari yang tidak pernah kutemukan. Kenapa aku bisa membukanya dengan scalpel? Karena aku tahu. Jauh di alam bawah sadarku, aku tahu cara membukanya. Karena aku pernah membukanya ribuan kali sebelumnya.
Aku bukan pindah ke rumah ini. Aku kembali.
"Siapa aku?" tanyaku pada cermin.
"Kau adalah penyembuh," jawab bayangan itu. "Dan penyembuh tidak boleh pergi sebelum semua luka menutup."
Rasa kantuk yang luar biasa menyerangku. Bukan kantuk biasa, tapi beratnya waktu yang menimpa pundak. Lututku lemas. Aku merosot duduk di lantai, bersandar pada lemari yang terbuka.
Di luar, hujan kembali turun. Deras. Menghapus jejak, menghapus waktu.
Aku melihat tanganku. Kulitku tampak mulai menguning, seperti kertas tua. Ujung-ujung jariku memudar, menjadi transparan sejenak lalu kembali padat. Aku terjebak dalam siklus ini. Aku adalah dokter, pasien, dan penyakit itu sendiri.
Aku mengambil pena dan kertas catatan operasi dari lantai. Dengan tangan yang gemetar, aku mulai menulis di bawah catatan tahun 1931.
"Catatan 2024. Pasien: Dina. Diagnosa: Amnesia Kronis. Terapi: Pulang."
Saat aku menulis, rasa sakit di bahu, di pipi, dan di dadaku perlahan menghilang. Seolah-olah dengan mengakui keberadaannya, rasa sakit itu divalidasi dan diizinkan pergi.
Pagi harinya, matahari masuk malu-malu lewat celah ventilasi. Nari menemukanku tertidur di lantai ruang tengah, memeluk tumpukan kertas tua.
"Dokter Dina?" panggilnya cemas, mengguncang bahuku.
Aku membuka mata. Kepalaku terasa ringan. Bau formalin sudah hilang, berganti dengan aroma tanah basah dan kopi pagi.
"Aku baik-baik saja, Nar," kataku, tersenyum. Senyum yang tulus, bukan senyum sopan yang biasa kuberikan.
Aku berdiri, merapikan kertas-kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam lemari. Aku menutup pintunya, tapi tidak menguncinya. Tidak perlu dikunci lagi.
"Dokter, luka di pipi Dokter..." Nari menunjuk wajahku.
Aku meraba pipiku. Halus. Tidak ada goresan. Tidak ada bekas.
"Sudah sembuh, Nar. Sudah sembuh."
Kami berjalan keluar menuju mobil untuk berangkat ke klinik. Di teras, aku berhenti sejenak menatap pantulan diriku di kaca jendela mobil. Sosok di kaca itu masih terlihat muda, tapi matanya... matanya menyimpan kedalaman seratus tahun.
Aku masuk ke mobil. Rumah tua itu berdiri diam di belakangku, menunggu hujan berikutnya, menunggu luka berikutnya yang harus kami obati bersama.
Aku menyalakan mesin. Di radio, lagu jazz lama mengalun. Aku tahu liriknya sebelum penyanyinya mulai bersuara. Aku tahu jalanan ini sebelum aku melihatnya. Aku tahu, aku tidak akan pernah benar-benar pergi dari sini. Dan anehnya, aku merasa tenang.
