Malam Ketika Aku Tidak Menjadi Dia


Postingan.com — Hujan di kota ini tidak pernah benar-benar jatuh; ia melayang, seperti debu basah yang enggan menyentuh aspal. Di balik jendela kaca perpustakaan lantai empat, aku mengamati butiran air itu menempel pada refleksi wajahku sendiri. Pucat, datar, dengan kantung mata yang sedikit membengkak karena kurang tidur. Namaku Lia, dan jika kau bertanya apa hobiku, aku tidak akan menjawab "membaca" atau "menonton film". Aku akan diam, lalu mungkin, jika suasana hatinya tepat, aku akan berkata: aku suka menguliti pikiran manusia.

Secara akademis, aku adalah mahasiswi psikologi semester akhir. Tapi secara personal, aku adalah pengamat bayang-bayang. Aku terobsesi bukan pada tindakan kriminal itu sendiri, melainkan pada jeda hening sebelum seorang pembunuh memutuskan untuk mengayunkan palu, atau detik ketika korban menyadari bahwa udara di sekitarnya berubah menjadi racun.

Perpustakaan ini adalah tempat suci. Bukan karena bukunya, tapi karena kesunyiannya yang artifisial. Di sini, suara langkah kaki diredam karpet tebal berwarna merah marun yang sudah pudar. Di pojok belakang, di rak nomor 304—bagian kriminologi dan patologi sosial yang jarang dijamah—aku menemukan rumah keduaku.

Sore itu, lampu neon di lorong berkedip pelan. Sebuah ritme yang aneh, seperti detak jantung yang sedang sekarat. Di rak paling bawah, terselip di antara dua buku tebal tentang profil kriminalistik, ada sebuah buku catatan bersampul kulit hitam. Tanpa judul. Tanpa nomor panggil perpustakaan. Kulitnya terasa hangat saat kusentuh, seolah-olah buku itu punya sirkulasi darah sendiri.

Aku menariknya keluar. Baunya bukan seperti kertas tua, melainkan seperti tembakau basah dan... sedikit logam berkarat. Darah kering? Imajinasi liarku langsung bekerja.

Aku duduk di lantai, bersila, dan membuka halaman pertama. Tulisannya rapi, tegak bersambung, menggunakan tinta biru tua yang tampak elegan namun menekan kertas terlalu dalam.

"Subjek 1: Pria paruh baya. Kebiasaan: Mengetuk gigi dengan kuku jari telunjuk saat cemas. Eksekusi: Bersih, tanpa suara. Seperti mematikan lilin."

Jantungku berdesir. Ini bukan buku teks. Ini jurnal. Jurnal seseorang yang mengamati, merencanakan, dan mungkin... melakukan.


Malamnya, apartemenku terasa lebih sempit dari biasanya. Aku tinggal di lantai tujuh sebuah gedung tua yang dindingnya setipis janji politisi. Di sebelah kananku, tinggal seorang pria yang kusebut "Si Kemeja Flanel". Namanya mungkin Budi atau Anton, tapi bagiku dia adalah objek studi.

Aku duduk di meja kerjaku, membuka jurnal hitam yang—entah bagaimana—sudah ada di dalam tasku. Aku tidak ingat meminjamnya melalui pustakawan. Seingatku, aku hanya memasukkannya begitu saja, seolah buku itu memang milikku.

Aku membaca halaman demi halaman. Penulis jurnal ini—sebut saja 'X'—memiliki ketelitian yang mengerikan. Dia tidak hanya mendeskripsikan cara membunuh, tapi dia mendeskripsikan rasa menjadi pembunuh dan korban secara bergantian.

"Saat tali itu mengetat," tulis X, "aku bisa merasakan napasnya tertahan di tenggorokanku sendiri. Ada rasa gatal di langit-langit mulut. Rasa panik yang berubah menjadi euforia aneh. Aku adalah tangan yang menarik, dan aku adalah leher yang tercekik."

Aku menelan ludah. Deskripsi itu begitu hidup. Aku menoleh ke dinding sebelah kanan. Si Kemeja Flanel sedang memasak. Aku bisa mendengar suara sutil beradu dengan wajan. Tring, tring, srak.

Tanpa sadar, tanganku bergerak mengambil pulpen. Di buku catatanku sendiri—buku spiral murah bergambar kucing—aku mulai menulis. Bukan, bukan menulis. Aku menyalin. Aku mencoba meniru gaya tulisan X. Tekanannya, lengkungannya.

Lalu, aku melakukan sesuatu yang gila. Aku berdiri, berjalan ke arah cermin, dan mencoba meniru ekspresi yang dideskripsikan X tentang korbannya. Mata terbelalak, bibir sedikit terbuka, otot leher menegang.

Di cermin, bayanganku menatap balik. Tapi ada yang salah. Selama sepersekian detik, bayangan itu tersenyum lebih dulu sebelum bibir asliku bergerak.

Aku mengerjap. Hanya ilusi optik. Pasti karena lampu kamar yang redup.


Hari-hari berikutnya berjalan dalam kabut. Kuliah terasa membosankan. Dosen yang berbicara tentang Freud dan Jung terdengar seperti dengungan lalat. Pikiranku tertuju pada jurnal hitam itu.

Aku mulai melakukan eksperimen. X menulis bahwa sebelum "bekerja", dia selalu minum kopi hitam tanpa gula dicampur sejumput garam. Katanya, itu membuat indra perasa menjadi tajam. Aku membencinya, tapi aku melakukannya. Di kafe kampus yang ramai, aku menyesap cairan pekat yang asin itu. Rasanya menjijikkan, tapi tiba-tiba, pendengaranku menajam.

Aku bisa mendengar percakapan di meja ujung. Mahasiswi yang menangis karena putus cinta. Dosen yang mengeluh tentang gaji. Suara mesin kopi yang mendesis marah. Semua suara itu masuk ke kepalaku tanpa filter, terpisah-pisah namun jernih.

Malam itu, aku membaca entri baru di jurnal hitam. Halaman 45.

"Target 3: Wanita muda. Suka memakai syal merah. Dia berjalan cepat karena takut pada bayangannya sendiri. Dia tidak tahu bahwa bayangan itu adalah aku."

Aku terdiam. Di gantungan bajuku, tergantung sebuah syal merah marun. Itu hadiah dari ibuku tahun lalu. Aku jarang memakainya.

Apakah ini kebetulan? Atau X sedang mengamatiku? Tapi kertas ini terlihat tua. Tinta ini sudah kering bertahun-tahun yang lalu. Bagaimana mungkin?

Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Aku memakai syal merah itu. Aku berdiri di depan cermin lagi. Kali ini, aku tidak melihat diriku sebagai Lia. Aku melihat diriku sebagai "Target 3".

Dan kemudian, transisi itu terjadi.

Tiba-tiba, aku bukan lagi korban. Sudut pandangku bergeser. Aku merasa tinggi, kuat, dan dingin. Aku melihat bayangan wanita bersyal merah di cermin itu sebagai objek. Sesuatu yang rapuh yang perlu dipatahkan agar "sempurna".

Tanganku bergerak sendiri, mencekik leherku sendiri.

Tidak, itu bukan bunuh diri. Itu adalah simulasi. Jari-jariku menekan karotis. Wajahku memerah. Aku menatap mataku sendiri di cermin, mencari detik di mana cahaya kehidupan itu meredup.

Lepaskan. Otak rasionalku berteriak.

Aku melepaskannya, terbatuk-batuk, jatuh ke lantai keramik yang dingin. Napasku memburu. Di leherku, tercetak bekas jari merah.

Aku tertawa. Tawa yang kering dan hampa. Sensasi tadi... mengerikan, tapi juga memabukkan. Aku telah menjadi keduanya: pembunuh dan korban, dalam satu tubuh, dalam satu waktu.


Minggu kedua, batas antara realitas dan isi jurnal semakin tipis. Aku mulai tidur dengan pakaian lengkap, siap jika sewaktu-waktu narasi dalam buku itu memanggilku.

Tetanggaku, Si Kemeja Flanel, mengetuk pintu suatu sore. Dia membawa semangkuk bubur kacang hijau.

"Mbak Lia, kan? Tadi saya masak kebanyakan. Maaf kalau ganggu," katanya. Wajahnya biasa saja. Tipikal wajah yang akan kau lupakan lima menit setelah bertemu.

Aku menatapnya, tapi aku tidak melihat tetangga yang ramah. Di kepalaku, teks dari halaman 72 jurnal hitam itu melayang-layang.

"Target 5: Pria yang terlalu ramah. Dia menyembunyikan kesepiannya di balik pemberian-pemberian kecil. Dia mudah didekati. Lehernya terbuka saat dia menunduk malu."

"Mbak?" tanyanya, bingung melihat tatapanku yang kosong.

"Terima kasih," jawabku kaku. Aku mengambil mangkuk itu. Jari kami bersentuhan. Kulitnya hangat. Terlalu hangat.

Malam itu, aku bermimpi. Dalam mimpi itu, aku adalah asap. Aku menyusup masuk ke kamar Si Kemeja Flanel lewat celah di bawah pintu. Aku melihatnya tidur. Dia mendengkur halus. Dalam wujud asap, aku memadat menjadi sosok manusia—bukan Lia, tapi sosok X yang tak berwajah.

Aku duduk di tepi ranjangnya. Mengamatinya tidur. Dalam mimpi itu, aku mengambil bantal dan menekannya ke wajahnya. Aku merasakan hentakan kakinya, perlawanan yang sia-sia, lalu diam.

Aku terbangun dengan napas tersengal. Jam menunjukkan pukul 03:00 pagi. Sunyi. Hujan masih turun di luar, ritmis dan monoton.

Aku melihat ke tanganku. Gemetar. Ada bau bantal apek di jariku.

Tunggu.

Aku mencium telapak tanganku. Baunya bukan bau sabunku. Itu bau deterjen murah yang biasa dipakai Si Kemeja Flanel.

Aku melompat dari tempat tidur, berlari ke pintu. Terkunci dari dalam. Rantai pengaman masih terpasang. Tidak mungkin aku keluar. Itu hanya mimpi. Harus cuma mimpi.

Tapi kenapa ada serat kain flanel terselip di kuku jari manisku?


Keesokan harinya, aku kembali ke perpustakaan. Aku butuh jawaban. Aku mencari buku-buku tentang gangguan disosiatif, tentang copycat killer, tentang apa saja yang bisa menjelaskan kegilaan ini.

Di meja baca yang sepi, jurnal hitam itu terbuka di depanku. Halamannya bertambah. Aku bersumpah, kemarin buku ini hanya setebal 100 halaman. Sekarang rasanya lebih tebal. Dan tinta di halaman terakhir masih basah.

"Dia mulai sadar. Dia mulai merasakan residu perbuatanku di tangannya. Bagus. Penyerapan sedang berlangsung. Batas antara pengamat dan pelaku memang hanyalah sebuah garis imajiner yang dibuat oleh moralitas."

"Siapa kamu?" bisikku pada buku itu.

Angin dingin berhembus dari lorong, padahal semua jendela tertutup rapat. Lampu di atas kepalaku berdengung keras, lalu mati. Kegelapan total selama tiga detik. Saat lampu menyala kembali, ada tulisan baru muncul di bawah paragraf tadi.

"Aku adalah apa yang kau inginkan, Lia."

Aku membanting buku itu menutup. Napasku tertahan. Tulisan itu... itu tulisan tanganku.

Bukan tulisan tangan yang kutiru. Itu tulisan tanganku yang asli, yang miring ke kiri dengan huruf 'g' yang ekornya tidak tersambung.

Aku membereskan barang-barangku dengan panik. Aku harus membuang buku ini. Aku berlari keluar perpustakaan, menembus hujan sore yang deras. Air membasahi wajahku, menyamarkan air mata ketakutan yang mulai keluar.

Aku sampai di jembatan penyeberangan di atas jalan tol. Mobil-mobil di bawah melaju seperti aliran darah yang bercahaya. Aku mengeluarkan buku hitam itu. Siap melemparnya.

Tapi tanganku berhenti di udara.

Jika aku membuangnya, aku tidak akan pernah tahu akhirnya. Jika aku membuangnya, aku akan tetap menjadi Lia yang membosankan, Lia yang hanya bisa mengamati dari balik kaca.

Buku ini memberiku kuasa. Memberiku rasa hidup yang gelap namun pekat.

Perlahan, aku menurunkan tangan. Memasukkan kembali buku itu ke dalam tas, mendekapnya erat seperti mendekap bayi yang sakit. Aku basah kuyup, menggigil, tapi aku tersenyum. Senyum yang tidak mencapai mata.


Konflik batin itu memuncak pada hari Jumat. Menurut jurnal, Jumat adalah hari eksekusi untuk "Target 5". Si Kemeja Flanel.

Aku duduk di kamarku. Di meja, ada pisau buah yang baru kumasah. Tajam, mengkilap, dingin. Jurnal terbuka di halaman yang mendetailkan rencana itu.

"Pukul 23:00. Dia akan pulang kerja lembur. Dia lelah. Pintu apartemennya sering macet, jadi dia tidak akan langsung menguncinya. Masuklah. Jadilah bayangan."

Jam dinding berdetak. Tik. Tok. Tik. Tok.

Pukul 22:50.

Aku mendengar langkah kaki di lorong. Berat dan menyeret. Itu dia. Si Kemeja Flanel pulang. Aku mendengar suara kunci beradu dengan pintu, lalu suara engsel yang berderit.

Tubuhku bergerak otomatis. Aku mengambil pisau itu. Aku bukan lagi Lia. Aku adalah narator dalam buku itu. Aku adalah X.

Aku keluar dari kamarku. Lorong apartemen sepi dan remang. Lampu neon di ujung lorong berkedip, menciptakan efek stroboskopik yang membuat gerakanku terlihat patah-patah.

Pintu kamarnya sedikit terbuka. Benar seperti prediksi jurnal.

Aku mendorong pintu itu pelan. Dia ada di sana, duduk di sofa usang, membelakangiku. Dia sedang melepas sepatu bot kerjanya. Bahunya turun, terlihat sangat lelah.

Aku melangkah masuk. Lantai tidak berbunyi. Aku sudah berlatih berjalan tanpa suara selama seminggu ini, mengikuti instruksi di halaman 20.

Sekarang aku berdiri tepat di belakangnya. Jarak kami hanya satu meter. Aku bisa mencium bau keringat dan rokok murah dari tubuhnya.

Aku mengangkat pisau.

Di saat itulah, waktu berhenti. Bukan metafora. Dunia benar-benar berhenti. Debu yang melayang di udara membeku. Suara tetesan keran di dapur berhenti di tengah jalan.

Aku melihat ke cermin yang tergantung di dinding depan sofa. Di sana, aku melihat diriku.

Tapi bukan Lia yang kulihat. Aku melihat seorang wanita tua. Rambutnya memutih, wajahnya penuh kerutan keras, matanya dingin seperti es. Dia memakai baju yang sama denganku, memegang pisau dengan cara yang sama.

Itu aku. Di masa depan.

Wanita tua di cermin itu menatapku dengan rasa iba yang mengerikan. Dia tidak tersenyum. Dia hanya mengangguk pelan, seolah berkata: "Beginilah semuanya bermula."

Rasa ngeri merambat dari ujung kaki ke kepala. Ini bukan delusi. Ini adalah ingatan yang belum terjadi.

Jurnal itu... jurnal itu bukan milik pembunuh berantai asing. Itu milikku. Itu tulisan tanganku di masa depan, setelah puluhan tahun tenggelam dalam kegelapan ini. Aku sedang membaca biografi kejahatanku sendiri sebelum aku melakukannya.

Jika aku menusukkan pisau ini, aku akan menjadi wanita tua di cermin itu. Aku akan mengisi sisa halaman jurnal itu dengan darah nyata, bukan tinta.

Tanganku gemetar hebat. Pisau itu terasa berat, seberat dosa yang belum dilakukan.

"Mbak Lia?"

Suara itu memecahkan sihir. Waktu berjalan kembali. Si Kemeja Flanel berbalik. Dia melihatku berdiri di sana, basah kuyup (padahal aku sudah kering), memegang pisau buah.

Matanya membelalak. Ketakutan murni.

Aku melihat ketakutan itu. Dan anehnya, rasa lapar di dalam diriku—rasa lapar si X—menjerit kegirangan. Lakukan! Dia sudah melihatmu! Tidak ada jalan kembali!

Tapi Lia yang asli, mahasiswi psikologi yang pendiam, berteriak lebih keras.

Aku menjatuhkan pisau itu. Klang. Suaranya nyaring sekali di lantai keramik.

"Maaf," bisikku, suaraku pecah. "Aku... aku mau meminjam bawang. Maaf."

Alasan yang bodoh. Tidak masuk akal. Siapa meminjam bawang dengan membawa pisau di tengah malam?

Aku berbalik dan lari. Aku lari keluar dari apartemennya, masuk ke kamarku, mengunci pintu, dan menyeret meja untuk mengganjalnya.


Aku duduk di sudut kamar, memeluk lutut. Jurnal hitam itu tergeletak di lantai, terbuka di halaman terakhir.

Aku tidak berani menyentuhnya. Tapi mataku terpaku pada tulisan di sana. Tinta yang tadinya basah kini mengering dengan cepat, seolah waktu sedang mengejar ketertinggalannya.

Tulisan itu berubah di depan mataku. Kalimat "Eksekusi sukses pada pukul 23:05" memudar, menghilang, digantikan oleh ruang kosong yang putih bersih.

Masa depan telah ditulis ulang. Atau setidaknya, satu paragraf darinya.

Tapi halaman-halaman sebelumnya masih ada. Catatan tentang korban-korban lain. Apakah itu juga aku? Apakah di masa depan yang lain, aku tetap menjadi monster, hanya saja melewatkan satu korban ini?

Aku merangkak mendekati buku itu. Mengambil pulpen dari tasku. Tanganku masih gemetar, tapi aku harus memastikannya.

Di halaman kosong itu, di bawah jejak tulisan yang hilang, aku mulai menulis. Menggunakan tulisan tanganku sendiri, bukan tiruan gaya X.

"Malam ini, Lia tidak membunuh. Malam ini, Lia hanya membunuh bayangannya sendiri."

Saat titik terakhir kububuhkan, aku merasakan sensasi aneh. Buku itu bergetar. Huruf-huruf di halaman awal—tulisan X yang rapi dan menekan—perlahan berubah bentuk. Lekukannya menjadi lebih santai, kemiringannya berubah ke kiri.

Seluruh isi buku itu, dari halaman pertama sampai terakhir, bermetamorfosis menjadi tulisan tanganku saat ini.

Aku mengerti sekarang. Buku ini bukan petunjuk dari masa depan yang fixed. Ini adalah cermin. Cermin yang memantulkan potensi tergelap dari siapa pun yang memegangnya. Karena aku terobsesi dengan kegelapan, ia memberiku kegelapan. Jika aku terobsesi dengan cahaya, mungkin isinya akan berbeda.

Tapi ada satu hal yang mengganggu.

Di halaman sampul dalam, yang tadinya kosong, kini muncul sebuah nama.

Lia Amalia, 2035.

Tahun itu sepuluh tahun lagi dari sekarang.

Aku menutup buku itu. Suara hujan di luar sudah reda. Kesunyian kembali memeluk kota, tapi kali ini tidak terasa menakutkan. Hanya sepi. Sepi yang wajar.

Aku bangkit, berjalan ke jendela. Di bawah sana, lampu jalanan berpendar kuning, menciptakan kolam-kolam cahaya di aspal basah.

Apakah aku selamat? Entahlah. Potensi itu—si wanita tua bermata dingin—masih ada di dalam diriku. Dia tidak pergi. Dia hanya tidur.

Aku mengambil jurnal itu dan meletakkannya di rak bukuku sendiri, terselip di antara buku teks psikologi abnormal dan novel romantis murahan.

Mulai besok, aku akan menulis jurnal ini dengan ceritaku sendiri. Cerita tentang Lia yang hidup, bukan Lia yang membunuh. Tapi aku tahu, setiap kali aku memegang pulpen, bayangan di cermin akan selalu mengawasi, menunggu saat tanganku terpeleset, menunggu gilirannya untuk mengambil alih pena.

Dan di keheningan kamar ini, aku sadar satu hal: hantu yang paling menakutkan bukanlah yang bersembunyi di bawah tempat tidur, melainkan yang duduk manis di dalam kepala, sabar menunggu kita lengah.

Aku mematikan lampu. Gelap. Tapi di dalam gelap, aku akhirnya bisa tidur tanpa mimpi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak