Postingan.com — Jarum turntable itu turun perlahan, mencium piringan hitam dengan bunyi pop statis yang selalu membuatku merasa pulang. Detik berikutnya, suara terompet Chet Baker memenuhi ruangan apartemenku yang sempit di kawasan Jakarta Selatan. Musik itu mengalun malas, seolah tahu bahwa malam ini aku tidak sedang terburu-buru ke mana pun.
Namaku Ryo. Pekerjaanku menerjemahkan manual instruksi barang elektronik dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Pekerjaan yang kering, teknis, dan sama sekali tidak membutuhkan imajinasi. Mungkin karena itulah, tuhan—atau siapa pun yang mengatur keseimbangan alam semesta—memberiku kehidupan malam yang ganjil.
Di luar, Jakarta sedang dihajar hujan sisa musim yang terlambat pulang. Kaca jendela di lantai 17 ini berembun, membiaskan cahaya lampu kota menjadi noda-noda abstrak berwarna oranye dan merah. Aku berdiri di depan kompor listrik, menatap air yang mulai mendidih. Uapnya naik, berpilin dengan asap rokok yang kubiarkan terbakar di asbak.
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, aku akan makan ramen instan, mendengarkan jazz, dan mencoba tidak memikirkan betapa sunyinya hidup seseorang yang menghabiskan 12 jam sehari mencari padanan kata untuk "sekrup pengunci" dan "tegangan daya".
Namun, ada satu hal yang membuatku gelisah malam ini. Bukan tenggat waktu, bukan tagihan listrik. Melainkan mimpi itu.
Sudah tiga malam berturut-turut aku memimpikan perempuan yang sama.
Dalam mimpi itu, tidak ada naga, tidak ada kemampuan terbang, atau hal-hal absurd layaknya mimpi orang lain. Mimpiku sangat realistis, hampir membosankan. Di sana, aku duduk di sebuah kafe kecil yang dindingnya dilapisi kayu gelap beraroma vernis tua. Di sudut ruangan, dekat jendela yang basah oleh hujan, seorang perempuan duduk membaca buku.
Wajahnya tidak terlalu jelas, seakan mataku rabun di dalam mimpi. Tapi aku ingat rambutnya yang dipotong pendek sebahu, sweater rajut berwarna abu-abu yang terlihat kedodoran, dan caranya membalik halaman buku—sangat hati-hati, seolah takut melukai kertasnya. Dia tidak pernah menoleh. Dia hanya membaca. Dan aku hanya menatap punggung atau profil sampingnya sambil menyesap kopi yang rasanya pahit dan nyata.
Bunyi timer kompor menyentakku kembali ke dapur. Air ramen meluap. Aku buru-buru mematikan kompor.
Malam itu, saat aku menyeruput kuah ramen yang panas, aku menyadari sesuatu yang aneh. Di ujung lidahku, masih tertinggal rasa pahit kopi dari mimpi semalam. Rasa itu begitu persisten, sampai-sampai bumbu MSG ramenku terasa hambar.
Aku menatap pantulan wajahku di layar laptop yang gelap. Kantung mata tebal, rambut berantakan.
"Kau mulai gila, Ryo," gumamku pada diri sendiri. "Itu cuma mimpi."
Tapi rasa kopi itu tidak mau hilang.
Seminggu kemudian, hujan turun lagi. Kali ini bukan sekadar gerimis, tapi hujan yang marah. Angin menderu di celah-celah gedung bertingkat, membuat jendela apartemenku bergetar.
Aku baru saja mengirimkan fail terjemahan manual mesin cuci ketika dorongan itu muncul. Dorongan untuk keluar. Ini tidak logis. Aku benci basah, aku benci macet, dan Jakarta saat hujan adalah kombinasi terburuk dari keduanya. Tapi kakiku bergerak sendiri. Aku menyambar jaket parasut, mengambil payung hitam, dan turun ke lobi.
Pak Asep, satpam gedung yang selalu terlihat mengantuk, menegurku. "Mau ke mana, Mas Ryo? Badai begini."
"Cari kopi, Pak," jawabku singkat.
"Di lobi kan ada vending machine."
"Lagi pengen yang manual, Pak."
Aku berlari menembus hujan, menyusuri trotoar yang becek. Aku tidak tahu mau ke mana. Kakiku melangkah secara intuitif, berbelok di gang-gang sempit di belakang area perkantoran yang mulai sepi. Suara klakson dan deru knalpot terdengar jauh, teredam oleh suara hujan yang menabrak aspal.
Setelah lima belas menit berjalan tanpa arah, aku berhenti.
Di sebuah tikungan sepi yang diapit oleh gedung ruko kosong dan tembok berlumut, ada sebuah kafe. Tidak ada papan nama neon yang mencolok. Hanya sebuah plang kayu kecil yang tergantung miring, bertuliskan "Kroma" dengan cat putih yang mulai mengelupas.
Jantungku berdegup kencang. Bukan karena lelah berlari, tapi karena aroma yang menguar dari celah pintu kayu itu. Aroma vernis tua dan biji kopi yang dipanggang gelap. Aroma yang sama persis dengan mimpiku.
Aku mendorong pintu. Lonceng kecil di atasnya bergemerincing, suara yang renyah dan jernih, membelah keheningan di dalam.
Kafe itu sepi. Tidak ada barista di balik meja bar, hanya mesin espresso yang mendesis pelan. Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya kuning redup yang hangat. Di rak-rak dinding, berjejer piringan hitam dan buku-buku tua.
Dan di sana, di sudut dekat jendela yang buram oleh uap air, dia ada.
Perempuan dari mimpiku.
Sweater abu-abu yang kedodoran. Rambut sebahu. Buku tebal di tangan.
Duniaku rasanya berhenti berputar sejenak. Logikaku, yang terbiasa menerjemahkan instruksi teknis yang kaku, mendadak mengalami glitch. Bagaimana mungkin aku memimpikan tempat dan orang yang belum pernah kutemui? Atau, apakah aku pernah ke sini sebelumnya dan melupakannya?
Aku melangkah mendekat, berusaha tidak membuat suara gaduh dengan sepatuku yang basah. Dia tidak menoleh. Sama seperti di mimpi.
Aku duduk di meja yang berjarak dua meter darinya. Kursi kayu berderit pelan.
Baru saat itulah dia mengangkat wajah.
Matanya tajam namun lelah, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan perjalanan panjang. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Dia menatapku seolah aku adalah pelanggan lama yang datang terlambat.
"Kopi hitam?" tanyanya. Suaranya serak, rendah, dan entah kenapa terdengar seperti gesekan jarum turntable sebelum lagu dimulai.
Aku mengangguk kaku. "Ya. Tanpa gula."
Dia menutup bukunya. Judulnya tidak terlihat karena sampulnya polos berwarna biru tua. Dia berdiri, berjalan menuju balik meja bar, dan mulai meracik kopi. Gerakannya efisien namun anggun. Bunyi air panas yang menimpa bubuk kopi terdengar meditatif.
Saat dia meletakkan cangkir keramik di mejaku, uap panas mengepul.
"Hujannya awet," katanya, lalu duduk kembali di kursinya, bukan di balik bar.
"Ya," jawabku. "Jakarta selalu begini kalau November."
Dia tersenyum tipis. "Aku suka hujan. Hujan membuat orang-orang bersembunyi. Dunia jadi lebih luas karena sepi."
Aku menyesap kopi itu. Rasanya menghantam lidahku. Pahit, asam, dengan jejak rasa tanah basah. Persis seperti rasa yang tertinggal di mulutku seminggu lalu.
"Siapa namamu?" tanyaku.
"Mara," jawabnya. "Dan kamu Ryo."
Tanganku berhenti di udara. "Kita pernah bertemu?"
Mara menatap ke luar jendela, menatap aliran air yang menderas di kaca. "Mungkin. Di sela-sela waktu. Atau di halaman buku yang belum selesai dibaca."
Jawaban itu terdengar pretensius jika diucapkan orang lain. Tapi dari mulut Mara, di kafe yang tersembunyi di lipatan kota ini, kalimat itu terdengar masuk akal.
Malam itu kami mengobrol panjang. Anehnya, kami tidak membicarakan hal-hal standar seperti pekerjaan atau asal-usul. Kami bicara tentang kesepian.
"Kesepian itu bukan karena tidak ada orang," kata Mara sambil memutar-mutar cangkirnya. "Kesepian itu adalah saat bahasamu tidak lagi bisa diterjemahkan oleh orang lain. Saat kau bicara, tapi yang mereka dengar hanya bunyi, bukan makna."
"Itu ironis," kataku. "Pekerjaanku penerjemah. Tapi aku sering merasa tidak ada kata yang pas untuk menjelaskan apa yang kurasakan saat bangun tidur."
"Mungkin karena kata itu belum diciptakan," sahut Mara. "Atau mungkin, kata itu ada di halaman yang hilang."
Kami bicara sampai hujan reda. Ketika rintik terakhir berhenti mengetuk atap seng, Mara melihat jam dinding tua yang jarumnya tidak bergerak.
"Hujan berhenti," katanya pelan. Nada suaranya berubah, menjadi lebih jauh. "Kafe harus tutup."
"Besok buka jam berapa?" tanyaku, enggan beranjak.
Mara menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kesedihan di sana, atau mungkin rasa kasihan. "Datanglah saat hujan, Ryo. Aku hanya ada saat hujan."
Aku mengira itu hanya metafora puitis. Sebuah cara menolak yang halus. Tapi saat aku melangkah keluar dan berbalik untuk melihat plang kafe itu sekali lagi, lampu di dalam sudah padam total. Pintu terkunci rapat. Seolah tidak ada kehidupan di sana sedetik yang lalu.
Mara tidak berbohong.
Dua hari kemudian, cuaca cerah. Matahari Jakarta menyengat tanpa ampun. Aku kembali ke gang itu di jam istirahat makan siang. Keringat menetes di punggungku.
Aku menemukan bangunannya. Ruko tua itu ada di sana. Tapi plang "Kroma" itu tampak jauh lebih usang dari yang kuingat. Catnya bukan hanya mengelupas, tapi nyaris pudar. Gembok besar berkarat menggantung di pintu harmonika besi yang tertutup rapat. Debu tebal melapisi ventilasi.
Aku bertanya pada seorang pedagang rokok di seberang jalan.
"Pak, kafe ini bukanya kapan ya?"
Bapak itu mengerutkan kening, menatapku aneh. "Kafe? Itu gudang bekas, Mas. Udah kosong dari tahun lalu. Bekas percetakan bangkrut."
Bulu kudukku meremang di tengah panas terik. "Tapi... dua malam lalu saya minum kopi di sini."
Si bapak tertawa, memamerkan gigi yang kuning karena nikotin. "Mas ngigo kali. Atau kebanyakan begadang. Di sini gak ada kafe."
Aku berdiri terpaku di depan pintu besi yang berkarat itu. Logikaku berteriak bahwa aku berhalusinasi. Bahwa stres pekerjaan akhirnya mematahkan kewarasanku. Tapi di ujung lidahku, rasa kopi itu masih ada. Dan di saku jaketku, aku menemukan struk pembayaran yang tintanya luntur.
Tertulis di sana: Kroma. 1 Kopi Hitam. 00:00 WIB.
Tidak ada tanggal.
Aku mulai hidup berdasarkan ramalan cuaca.
Aplikasi cuaca di ponselku menjadi hal pertama yang kulihat saat bangun dan hal terakhir yang kucek sebelum tidur. Aku menjadi obsesif. Jika ada prediksi hujan 80%, aku akan bergegas menyelesaikan pekerjaanku, berpakaian rapi, dan pergi ke gang itu.
Dan benar saja. Setiap kali hujan turun, pintu itu terbuka. Lampu kuning itu menyala. Aroma kopi itu menguar.
Mara selalu ada di sana. Selalu di kursi yang sama. Selalu membaca buku bersampul biru tua yang sama.
Hubungan kami tumbuh dalam kelembapan dan suara guntur. Itu bukan hubungan romantis dalam artian konvensional. Kami tidak bersentuhan. Kami jarang menatap mata lama-lama. Tapi ada keintiman yang terbentuk dari berbagi diam.
Aku bercerita tentang masa kecilku yang sunyi, tentang bagaimana aku lebih suka bicara dengan benda mati daripada manusia. Mara mendengarkan dengan saksama, seolah setiap kataku adalah baris puisi penting.
"Kenapa hanya saat hujan, Mara?" tanyaku suatu malam, saat hujan deras mengguyur Jakarta selama empat jam non-stop. Itu adalah rekor pertemuan terlama kami.
Mara meletakkan bukunya. Dia menatap ke luar jendela, di mana lampu jalanan berpendar kabur.
"Karena hujan adalah jeda," jawabnya. "Di dunia nyata, waktu berjalan linear dan kejam. Tapi saat hujan, waktu melambat. Memori dan kenyataan bercampur. Aku... aku terjebak di dalam jeda itu."
"Terjebak?"
"Ada hal-hal yang tidak bisa bertahan di bawah matahari, Ryo. Jamur, lumut, kenangan buruk... dan aku."
"Kau hantu?" tanyaku, setengah bercanda tapi setengah takut.
Mara tertawa kecil. Tawanya kering. "Hantu itu terlalu dramatis. Aku lebih suka disebut... gema. Gema dari sesuatu yang hilang."
Keanehan mulai merembes lebih dalam ke realitasku.
Seringkali, saat aku sedang menerjemahkan dokumen di apartemenku, aku melihat bayangan air menetes dari langit-langit, padahal tidak ada kebocoran. Piringan hitamku kadang melompat, memutar lagu yang tidak pernah kurekam—suara Mara yang bersenandung pelan. Kucing liar di sekitar apartemenku mulai menatapku dengan waspada, seolah aku membawa bau dunia lain.
Dan fisikku mulai lelah. Setiap kali pulang dari Kroma, aku merasa terkuras. Bukan sekadar mengantuk, tapi seolah sebagian energi kehidupanku tertinggal di kafe itu. Wajahku di cermin makin pucat. Tapi aku tidak peduli. Pertemuan dengan Mara adalah satu-satunya hal yang terasa berwarna dalam hidupku yang monokrom.
Puncaknya terjadi di akhir November. Badai tropis melanda Jakarta.
Hujan turun seolah langit sedang runtuh. Banjir mulai menggenangi jalan-jalan protokol. Listrik di apartemenku mati-hidup. Aku tahu aku harus ke sana. Instingku berteriak bahwa ini mungkin hujan terakhir sebelum musim kemarau datang.
Aku menerobos banjir setinggi betis untuk mencapai gang itu. Payungku sudah patah diterjang angin, jadi aku basah kuyup sampai ke tulang.
Kroma buka. Tapi suasananya berbeda.
Lampu di dalam berkedip-kedip redup. Musik jazz yang biasanya diputar dari speaker terdengar distorsi, melambat dan memberat. Ruangan itu terasa dingin, jauh lebih dingin dari udara di luar.
Mara tidak duduk di kursinya.
Kafe itu kosong. Hanya ada secangkir kopi yang masih mengepul di meja tempat biasa Mara duduk. Dan buku bersampul biru tua itu tergeletak di sebelahnya.
"Mara?" panggilku. Suaraku bergema, seolah ruangan ini jauh lebih luas dari yang terlihat.
Hening. Hanya suara hujan yang menghantam atap dengan brutal.
Aku berjalan mendekati meja itu. Jantungku berdegup menyakitkan. Ada dorongan yang tak tertahankan untuk menyentuh buku itu. Selama ini, Mara tidak pernah mengizinkanku melihat isinya. "Belum waktunya," katanya selalu.
Tanganku gemetar saat menyentuh sampulnya yang bertekstur kulit jeruk. Dingin.
Aku membukanya.
Halaman pertama. Kosong.
Halaman kedua. Kosong.
Aku membalik halaman dengan cepat. Kosong, kosong, kosong. Apakah ini lelucon? Apakah Mara hanyalah orang gila yang berpura-pura membaca buku kosong setiap malam?
Lalu, aku sampai di halaman 42.
Ada tulisan tangan di sana. Tulisan yang sangat rapi, menggunakan tinta hitam.
24 November. Hujan deras. Dia datang lagi hari ini. Matanya terlihat lebih lelah. Dia memesan kopi hitam tanpa gula. Dia bercerita tentang mesin cuci dan kesepian. Aku ingin memberitahunya, tapi aku takut dia akan pergi selamanya.
Aku terpaku. Itu tanggal pertemuan pertama kami.
Aku membalik ke halaman berikutnya.
27 November. Gerimis. Dia bertanya siapa namaku. Aku menjawab Mara. Dia tidak tahu bahwa nama itu adalah anagram dari nama yang dia berikan padaku dalam mimpinya.
Napas ku tercekat. Aku terus membaca. Setiap halaman berisi catatan detail tentang pertemuan kami. Dialog kami, gesturku, bahkan pikiran-pikiran yang tidak pernah kuucapkan. Ini bukan sekadar buku harian. Ini adalah observasi.
Tapi yang membuat darahku membeku bukan isinya. Melainkan tulisan tangannya.
Bentuk huruf 'g' yang ekornya tidak menyambung. Huruf 't' yang palangnya sedikit miring ke atas. Tekanan pena yang tidak rata di beberapa kata.
Ini tulisan tanganku.
Aku mundur selangkah, menabrak kursi hingga terjungkal.
"Tidak mungkin," bisikku. "Aku tidak pernah menulis ini."
Aku merogoh tas kerjaku, mengeluarkan buku catatan kecil tempat aku biasa mencatat istilah-istilah sulit terjemahan. Aku membandingkannya. Identik. Kemiringannya, spasinya, segalanya.
Bagaimana mungkin aku menulis buku harian di tempat yang baru kudatangi, tentang perempuan yang baru kutemui?
"Kau sudah sampai di bagian itu rupanya."
Suara Mara muncul dari arah belakang. Aku berputar.
Dia berdiri di ambang pintu yang menuju ke dapur kafe. Tapi dia terlihat... transparan. Ujung-ujung jarinya memudar seperti asap rokok. Wajahnya pucat pasi, namun matanya menatapku dengan kesedihan yang purba.
"Apa artinya ini, Mara?" tanyaku, suaraku parau. "Kenapa tulisan ini tulisanku? Siapa kamu sebenarnya?"
Mara berjalan mendekat, tapi tidak ada suara langkah kaki.
"Kau penulisnya, Ryo," katanya lembut. "Kau bukan penerjemah. Itu pekerjaanmu di dunia 'bangun'. Tapi di dalam jiwamu, kau adalah penulis yang kesepian. Kau menulis cerita ini bertahun-tahun yang lalu. Cerita tentang kafe yang hanya buka saat hujan dan perempuan yang menunggu di sana."
Kepalaku berdenyut hebat. Potongan ingatan yang terkubur mulai muncul ke permukaan. Masa kuliah. Ambisi sastra yang mati karena kebutuhan ekonomi. Tumpukan manuskrip yang kubakar di tong sampah karena merasa gagal.
"Aku... aku membakar ceritanya," kataku terbata.
"Kau membakar kertasnya," koreksi Mara. "Tapi kau tidak bisa membakar kerinduan yang menciptakan tokohnya. Aku lahir dari rasa sepimu, Ryo. Aku adalah sisa-sisa ambisimu yang kau buang, yang hidup dari hujan dan melankolia."
"Jadi kau tidak nyata?"
Mara tersenyum. Senyum paling sedih yang pernah kulihat. "Apakah rasa sakitmu nyata? Apakah kopinya terasa pahit? Kalau aku bisa membuatmu merasa tidak sendirian, apakah penting aku nyata atau tidak?"
Dinding kafe mulai bergetar. Hujan di luar semakin gila. Air mulai merembes masuk dari bawah pintu, tapi air itu berwarna hitam seperti tinta.
"Hujannya akan berhenti, Ryo," kata Mara. Tubuhnya semakin pudar, hampir menyatu dengan cahaya lampu yang meredup. "Badai ini akan selesai. Dan saat itu terjadi, cerita ini harus berakhir."
"Aku tidak mau," kataku. Aku mencoba meraih tangannya, tapi jari-jariku menembus udara dingin. "Aku bisa menulis ulang! Aku bisa membuat kafe ini buka setiap hari! Aku bisa memberimu nama lain!"
Mara menggeleng. "Cerita yang bagus tahu kapan harus selesai. Kalau kau memaksakan lanjut, kita hanya akan menjadi tragedi yang membosankan."
Dia menunjuk buku di meja.
"Bawa itu. Itu satu-satunya yang boleh kau bawa pulang. Ingat aku sebagai draf yang indah, bukan sebagai hantu yang menghantuimu."
Dinding-dinding kafe mulai melarut menjadi cairan hitam. Lantai kayu di bawah kakiku berubah menjadi pusaran air. Aku merasa ditarik, disedot keluar dari realitas ini.
"Mara!" teriakku.
Dia hanya melambai. Mulutnya bergerak mengucapkan satu kata terakhir sebelum sosoknya hilang sepenuhnya ditelan kegelapan tinta.
Bangun.
Aku tersentak bangun di lantai apartemenku.
Tubuhku basah kuyup oleh keringat—atau mungkin air hujan, aku tidak tahu. Napasku memburu. Di luar jendela, langit Jakarta cerah. Matahari pagi menyelinap malu-malu di antara gedung pencakar langit. Badai semalam sudah berlalu, menyisakan genangan di jalanan bawah sana.
Kepalaku pening. Apakah itu semua mimpi? Apakah aku pingsan karena kelelahan kerja?
Aku hendak bangkit untuk mengambil air minum ketika tanganku menyentuh sesuatu yang keras di lantai.
Buku itu.
Buku bersampul biru tua.
Kering. Nyata. Padat.
Dengan tangan gemetar, aku memungutnya. Aku membukanya. Halaman-halaman yang semalam penuh tulisan, kini kosong melompong. Bersih. Putih.
Tidak ada catatan tanggal. Tidak ada deskripsi tentang Mara.
Hanya ada satu kalimat pendek di halaman terakhir, ditulis dengan tulisan tanganku yang terburu-buru dan sedikit berantakan:
Untuk Ryo, terima kasih sudah mampir di paragraf ini.
Aku duduk bersandar pada dinding apartemen yang dingin. Keheningan pagi itu terasa berbeda. Bukan lagi keheningan yang kosong dan menekan, tapi keheningan yang penuh. Seperti perasaan lega setelah menangis panjang.
Aku berjalan ke dapur, menyalakan kompor untuk menyeduh kopi. Bukan kopi instan, tapi kopi bubuk yang kubeli di supermarket kemarin.
Sambil menunggu air mendidih, aku memutar piringan hitam. Kind of Blue dari Miles Davis.
Aku mengambil pulpen dari saku kemejaku yang tergantung. Aku duduk di meja makan, membuka halaman pertama buku biru itu.
Aku bukan lagi sekadar penerjemah bahasa mesin.
Di luar, langit bersih tanpa awan. Tapi di dalam kepalaku, hujan rintik-rintik turun dengan damai, membasahi atap sebuah kafe imajiner di mana seorang perempuan sedang menunggu untuk dituliskan kembali.
Aku menempelkan ujung pena ke kertas.
"Hujan turun di Jakarta, membawa serta aroma kenangan yang belum selesai..."
Aku mulai menulis. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak merasa sendiri.
